Ceritaku dengan Festival Lima Ribu Lampion di Pantai Bandengan

Ceritaku dengan Festival Lima Ribu Lampion di Pantai Bandengan – Festival Lima Ribu Lampion ialah penutup dari festival kartini sesudah jajaran program seperti Wilujengan Nagari, dulu ada Seminar Nasional Spirit Kartini, Buka Luwur, Batik Karnival & tidak sedikit lagi. & program lampionnya diadakan kepada tanggal 20 April 2016 di Pantai Bandengan. Telah kebayang romantisnya belum?

ceritaku dengan festival lima ribu lampion di pantai bandengan

Berkata lampion, aku menjadi terbayang-bayang Tangled, Rapunsel. Romantis gitu, duduk di perahu, berdua, kerlap-kerlip lampion, hihihi. Tetapi kepada kenyataannya, aku nggak bakal lampion yg gratisan dikarenakan telat. Tetapi aku masihlah datang wong penasaran, hahaha. Di sana serta ada yg jual lampion Rp.10 ribu satu bijinya.

Ceritanya kita, aku & kawan-kawan Folkom janjian untuk bertolak bareng. Disayangkan aku telat lantaran nunggu supir. Jadilah aku, Kakak & Sinta ngebut supaya sanggup barengan jalannya. Nggak menjadi bareng sih namun hasilnya kita ketemu di tempat.

Yg mesti di terima yakni ruang di arena lapang, bukan di pantainya. Telah gitu acaranya lama. Pembukaan lah, nyanyi-nyanyi, penyerahan hadiah yg intinya bikin kita nggak sabar.

Sebahagian dari kami telah mulai sejak menyalakan lampion. Sebahagian lagi menunggu. & aku termasuk juga orang yg aslinya nggak sabaran. Aku bawa Sinta, balita, & ia tiba-tiba nangis lantaran bosan. Mana nyari Mamanya lagi, hahaha. Pusing pala aku.

& pada jam sembilan tengah malam hasilnya lampion-lampion yg tersisa diterbangkan. Langit tengah malam bertabur lampion & ya pass indah. Disayangkan itu cuma sekejap saja sebab hujan datang tiba-tiba. Terhadap bubar barisan, menyelamatkan diri. Sangat Disayangkan tertunda di mana-mana sampai hasilnya terjebak ditengah hujan.

Emang nggak ada yg sempurna. Aku mengharapkan ini mungkin saja pelajaran utk th depan. & romantis itu cuma dalam drama. Seandainya ingin narasi romantis, bayangin sama pasangan halal kita saja, hahaha.

Susan Morgan

View more posts from this author